“Terpuruknya
Negeri Ini”
Yang
saya hormati Kadin Pemuda dan Olahraga dan pemerintah pada umumnya
Yang
terhormat bapak Kepala Sekolah
Yang
terhormat Bapak/ibu guru
Serta
teman-teman yang saya sayangi
Dan yang
terhormat teman-teman sekalian yang hadir disini
Assalamu
alaikum warahmatullahi wabarakaatu
Puji
syukur tidak henti-hentinya kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Karena
atas berkat rahmat dan hidayahnya, kita di beri kesehatan dan kesempatan
sehingga kita bisa hadir di tempat ini. Dan tak lupa juga kita mengirimkan
salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Yang menjadi panutan dan suri
tauladan bagi kita sebagai umatnya.
Ibu guru dan teman-teman sekalian yang saya hormati
Pada
kesempatan hari ini saya akan membawakan sebuah pidato yang berjudul
“terpuruknya negeri ini”
Hadirin sekalian yang saya hormati
Kenapa
saya mengangkat judul pidato ini karena kondisi negeri kita saat ini sedang
terperuk. Berbagai masalah yang di alami negeri ini tak henti-hentinya datang
silih berganti. Diantaranya semakin banyaknya masyarakat miskin, semakin
maraknya kasus korupsi yang di lakukan oleh oknum pejabat, atau wakil
rakyat,bentrokan antar suku dan agama sehingga
menimbulkan korban jiwa bahkan di perjual belikannya hukum.
Di
sisi lain sebagian remaja atau pemuda yang nantinya menjadi generasi penerus
bangsa dan menjadi harapan orang tua mereka, seolah tidak peduli, banyak di
antara mereka melakukan hal yang sia-sia seperti tawuran antar pelajar,
penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, serta melakukan hubungan seks di luar
nikah. Sungguh perbuatan itu sangat tercela. Tetapi, mereka menganggap bahwa
itu sudah menjadi hal yang lumrah dan menjadi tren anak muda masa kini.
Inilah
bukti bahwa negeri kita saat ini betul-betul terpuruk di berbagai sisi kehidupan
baik ekonomi,politik,hukum, sosial dan budaya. Di bidang ekonomi misalnya
naiknya bahan-bahan pokok membuat masyarakat yang berpenghasilan rendah tidak
mampu membeli dan akan memicu bertambahnya masyarakat miskin. Di bidang
politik, para penguasa dan wakil rakyat berlomba-lomba untuk mengumpulkan
kekayaan untuk diri mereka sendiri. Mereka seolah tidak peduli dengan
masyarakat. Mereka lebih mementingkan pencitraan dan kenaikan gaji padahal kerja mereka tidak becus. Mereka
mengingkari janji-janji yang dikeluarkan saat pemilihan umum
akibatnya.masyarakat kecil menjerit di karenakan penderitaan yang dialami. Di
bidang hukum, orang miskin yang di tuduh mencuri sop buntut, dua buah kakao,dan
sepasang sandal jepit yang harganya tidak seberapa di hukum maksimal 15 tahun
ataupun yang sedang hangat diperbincangkan kasus nenek Asyani yang ditahan karena dituduh mencuri pohon jati
milik Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Timur yang berada di Situbondo dan
dihukum dan dihukum penjara serta denda yang beitu banyak sedangkan para
koruptor yang menggelapkan uang Negara triliyunan rupiah hanya di hukum 2 tahun
saja bahkan hanya 3 bulan. Sehingga masyarakat menganggap hukum negeri kita ini
seperti panggung sandiwara. Di hadapan
hukum, nyatanya uang dan kedudukan sangat menentukan. Itu pula sebabnya penegak
hukum mirip wirausaha yang berbisnis perkara. Ditemani oleh undang-undang dan
dikawal para makelar maka hukum jadi barang jualan. Dapat dibeli dan ditawar.
Ikhtiar untuk membasmi terasa sia-sia dan tak ada gunanya. Peringkat korupsi
masih tinggi, aparat tanpa hati nurani dan pengacara hilang etika.
Hukum memang sudah lama hilang di negeri ini. Yang
tinggal hanya fakultas hukum, pejabat hukum dan lebih banyak lagi, makelar
hukum! Komplotan para bedebah itulah yang tersisa dan bekerja.
Di bidang
sosial dan budaya sudah mulai lunturnya norma dan adat luhur budaya kita.
Misalnya mulai berkurangnya rasa saling menghormati, banyaknya anak yang
durhaka kepada kedua orang tuanya hilangnya persatuan dan kesatuan sehingga
menimbulkan bentrokan antar suku, ras dan
agama.
Ibu guru dan teman-teman sekalian yang saya hormati
Penyebab
dari semua masalah di atas adalah tidak diamalkannya lagi nilai-nilai luhur
bangsa kita. Bangsa kita di kenal dengan nilai-nilai luhurnya. Bangsa kita di
kenal dengan ketaqwaannya kepada tuhan Yang Maha Esa, memiliki adab, punya
persatuan dan kesatuan serta memiliki keadilan sosial yang mewakili seluruh rakyat bangsa ini, yaitu pancasila.
Lantas mengapa kita tidak mengamalkannya lagi? Bukankah negeri ini di bangun
berlandaskan pancasila dan UUD 1945?
hadirin sekalian yang saya hormati
Kita
kembali menengok ke masa lalu bagaimana perjuangan para pendiri bangsa ini
dalam merebut kemerdekaan. Mereka mengorbankan jiwa dan raga mereka demi
mencapai itu semua. Mereka berharap kelak negeri ini akan menjadi negeri yang
besar serta mampu terbang menuju kejayaan. Mereka pasti mengharapkan para
pemudanya mampu mengisi kemerdekaan ini dengan semangat pembangunan. Tetapi
kita seolah-olah ragu apakah kita bisa membawa bangsa ini menuju kejayaan.
Hadirin sekalian yang saya mulyakan
Lantas
kita sebagai pemuda hanya diam saja? Apakah kita tega bila nantinya arwah
pendiri bangsa ini menangis melihat keadaan bangsa ini? Dan apakah kita rela
jika negeri ini semakin terpuruk? Jawabannya adalah tidak ibu guru dan
teman-teman sekalian kita tidak boleh diam. kita tidak ingin menyia-nyiakan
para pendiri bangsa ini menangis. Kita juga tidak akan membiarkan negeri ini
semakin terpuruk. Caranya kita sebagai pemuda-pemudi harus berkarya dan
berprestasi dalam bidang yang kita tekuni demi pembangunan bangsa ini. Kita
tunjukkan pada dunia bahwa pemuda Indonesia kuat. Pemuda Indonesia punya mental
garuda yang akan selalu terbang tinggi meraih cita-cita. Pemuda Indonesia punya
jiwa pancasila yang pantang untuk menyerah dan pemuda Indonesia punya semangat
proklamasi yang selalu berkobar dalam menerangi jiwa kita untuk meraih
prestasi. Selain itu dengan usaha dan berdoa kepada Allah SWT. Insya allah kita
bisa meraih itu semua dalam mencapai kejayaan bangsa ini.
Hadirin sekalian yang saya hormati
Sebagai
kesimpulan, sebagai pelajar marilah kita selamatkan negeri ini dari
keterpurukannya dengan meraih prestasi dalam bidang kita masing-masing demi
pembangunan bangsa ini karena siapa lagi kalau bukan kita pemuda Indonesia.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah
suatu kaum jika kaum itu mau merubahnya.
Sekian dan terima kasih.